
Dari sudut teras sederhana beratap seng yang sedikit berisik kalau terkena angin dan kadang hujan pun tembus menetes membasahi sebagian dibawahnya, terbentang hamparan hijau yang rasanya seperti karpet raksasa milik alam. Kebun-kebun tersusun rapi, seolah-olah tanaman di sana bangun pagi lebih rajin daripada manusia yang masih tarik selimut. Di kejauhan, gunung berdiri tenang seperti penjaga tua yang sudah hafal dengan semua rahasia desa; dari kisah cinta yang gagal sampai jemuran yang tiba-tiba kehujanan. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah dan daun segar, membuat siapa pun yang berdiri di sana mendadak merasa jadi tokoh utama film bertema “pulang kampung menemukan jati diri”.
Di sisi kanan, semak dan pohon tumbuh santai tanpa memikirkan cicilan atau notifikasi ponsel. Langit biru berawan menggantung seperti lukisan yang lupa diberi tanda tangan pelukisnya. Tempat ini sederhana, jauh dari gemerlap kota, tapi justru di situlah letak keistimewaan dan kemewahannya. Kadang kita terlalu sibuk mengejar pemandangan baru, padahal keindahan sering sudah menunggu di teras sendiri. "Bersyukur itu seperti ladang hijau; kalau dirawat dan dipandang dengan hati yang tenang, ia akan membuat hidup terasa luas dan cukup".