
Hari pertama mereka bertemu sebenarnya bukan hari yang indah. Hujan turun deras di halte kecil yang sepi, dan caca disebutnya, duduk sambil memeluk tasnya, baru saja menerima kabar bahwa ia gagal dalam wawancara kerja impiannya. Di sebelahnya, tanpa banyak suara, duduk seorang pria bernama Baba yang sepatunya basah kuyup karena terpeleset di selokan lima menit sebelumnya; martabatnya lebih basah dari sepatunya. Mereka tidak sengaja saling pandang saat petir menyambar, dan dalam suasana sendu itu Baba malah bersin keras tiga kali berturut-turut. Caca yang tadinya hampir menangis malah terkekeh kecil. “Maaf,” kata Baba dengan wajah merah, “saya tidak bermaksud merusak suasana dramatisnya.” Dari situlah obrolan canggung mereka dimulai, di antara hujan, genangan air, dan harga diri yang sama-sama sedang diuji.
Caca bercerita tentang kegagalannya dengan suara pelan, sementara Baba mengaku ia juga baru saja ditolak seseorang (ditolak naik ojek online karena drivernya membatalkan). Entah kenapa, kesedihan mereka terasa lebih ringan saat dibagikan bersama. Baba bahkan menawarkan payungnya yang sebenarnya patah satu sisi, membuat mereka harus berdiri sangat dekat agar tidak kehujanan. Dalam jarak yang sempit itu, tawa kecil lebih sering muncul daripada keluhan. Saat hujan mulai reda, Baba berkata, “Kalau hari ini buruk untuk kita berdua, setidaknya kita bisa sepakat satu hal… ketemunya nggak buruk, kan?” Caca tersenyum, kali ini bukan karena ingin menahan tangis, tapi karena hatinya menghangat. Mereka bertukar nama, lalu nomor, dengan perasaan yang pelan-pelan berubah. Hari itu memang dimulai dengan sedih, tapi berakhir dengan dua hati yang sadar; kadang pertemuan paling sederhana justru yang membuat kita saling suka.