Burung Emprit di Persawahan Siang itu

Siang itu, sawah di sebuah desa yang berkilau dengan sinar matahari menerangi terangnya persawahan di sekitarnya. Sedikit tersisa butir-butir embun yang masih menempel manja di ujung daun padi. Di tengah hamparan hijau yang bergoyang pelan tertiup angin, beberapa ekor burung emprit kecil bertengger dengan gaya penuh percaya diri di atas satu tangkai padi yang mulai menguning.
Namanya; setidaknya menurut dirinya sendiri; yaitu Jendral Pipit Perkasa.
Padahal ukurannya cuma segenggam tangan.
Tangkai padi yang ia pijak melengkung pelan karena berat tubuh mungilnya. Jendral Pipit langsung berdiri lebih tegak.
“Tenang, pasukan padi! Aku hanya sedang inspeksi,” cicitnya serius.
Angin di siang itu berhembus agak kencang. Seluruh sawah bergoyang serempak seperti lautan hijau. Jendral Pipit ikut terombang-ambing, mencengkeram kuat-kuat.
“Ini bukan goyang… ini latihan keseimbangan!” katanya, meski paruhnya hampir menyentuh bulir padi.
Tak jauh dari sana, beberapa emprit lain mendarat sambil tertawa kecil.
“Lagi pidato ya, Jendral?” tanya salah satunya.
“Aku sedang mengawasi kualitas padi. Harus matang sempurna sebelum… ehm… kita bantu panen,” jawabnya bijak.
Ia mematuk satu bulir padi. Lalu satu lagi. Lalu satu lagi.
“Hmm… demi penelitian tentunya.”
Tiba-tiba terdengar bunyi kaleng bergemerincing dari orang-orangan sawah. Jendral Pipit membeku. Semua burung langsung terbang berhamburan.
“Strategi mundur teratur!” teriaknya panik sambil mengepakkan sayap secepat kipas angin level tiga.
Beberapa detik kemudian, suasana kembali tenang. Ternyata hanya angin yang menggerakkan tali kaleng itu.
Jendral Pipit perlahan kembali bertengger di tangkai padi yang sama. Ia merapikan bulunya yang sedikit berantakan, lalu berkata dengan wibawa pura-pura,
“Itu hanya simulasi bahaya. Aku sengaja menguji refleks kalian.”
Burung-burung lain memutar mata, lalu kembali sibuk mematuk padi.
Matahari semakin menjulang. Sawah pun semakin berkilau seperti permadani emas dan hijau. Petani di kejauhan tersenyum melihat bulir padi yang hampir siap panen, tak menyadari “rapat penting” yang sedang berlangsung di atasnya.
Jendral Pipit memandang luasnya sawah dari tempatnya bertengger. Meski kecil, ia merasa dunia siang itu begitu besar dan indah. Angin kembali berhembus lembut, membuat padi bergoyang seperti sedang menari.
Dan di atas satu tangkai padi yang lentur, seekor burung emprit kecil merasa dirinya penguasa sawah… setidaknya sampai kaleng itu berbunyi lagi.