Di sebuah desa yang tenang, mengalirlah sebuah sungai yang bernama Sungai Serayu Kecil. Walaupun namanya terdengar gagah seperti salah satu sungai besar di Jawa, sungai ini sebenarnya tidak terlalu lebar. Setiap pagi, airnya mengalir sambil berkilau diterpa matahari, seolah-olah sedang berkata, “Tanpa aku, kalian semua pasti kegerahan!”
Sungai itu punya sifat sedikit lucu. Kalau musim hujan tiba dan airnya meluap kecil, ia seperti anak kecil yang terlalu semangat bermain. “Lihat aku! Lihat aku! Aku bisa berenang sampai ke halaman rumah Pak Tani!” katanya sambil membuat warga sibuk mengamankan sandal yang hanyut.
Di tepiannya, anak-anak sering bermain dan memancing ikan kecil. Kadang mereka terpeleset dan tertawa sendiri. Sungai itu seolah terkikik geli melihat tingkah mereka. “Hati-hati, licin, lho!” bisiknya lewat gemericik air.
Bagi para petani, sungai itu adalah sahabat setia. Airnya mengalir ke sawah-sawah, membuat padi tumbuh subur dan hijau. Burung-burung datang minum, kerbau berendam dengan wajah puas, dan ikan-ikan kecil berenang riang di antara batu-batu. Tanpa sungai itu, sawah akan kering, tanaman layu, dan desa terasa sepi.
Tak hanya itu, ibu-ibu desa sering mencuci pakaian di tepinya. Sambil mengobrol dan tertawa, mereka membuat suasana sungai semakin hidup. Sungai itu bangga karena airnya membantu membersihkan pakaian dan menjaga kebersihan warga.
Suatu hari, seorang anak bertanya, “Kenapa sungai ini selalu mengalir dan tidak pernah capek?”
Kakeknya tersenyum dan berkata, “Karena sungai tahu tugasnya. Ia mengalir untuk memberi kehidupan.”
Sungai itu seolah tersipu mendengar pujian tersebut. Ia pun terus mengalir, membawa air, kehidupan, dan sedikit tawa untuk semua yang tinggal di sekitarnya.
Sejak saat itu, warga desa semakin menjaga kebersihan sungai. Mereka tidak membuang sampah sembarangan, karena mereka tahu sungai kecil itu bukan hanya aliran air, melainkan sahabat yang setia dan sumber kehidupan.
