Ketika malam mulai dingin atau hujan deras mengguyur, tak ada yang lebih nikmat daripada menyeruput semangkuk wedang hangat. Di antara jajaran minuman tradisional Nusantara, wedang ronde tetap memegang posisi istimewa di hati banyak orang. Meski zaman terus berganti dan kafe kekinian bermunculan di setiap sudut kota, kuliner legendaris ini terbukti tak pernah kehilangan penggemarnya. Akulturasi budaya yang sempurna dari wedang ronde, sebenarnya merupakan bentuk akulturasi budaya yang sangat indah antara Tionghoa dan Jawa. Asal-usulnya berasal dari hidangan Tiongkok bernama Tangyuan, yaitu bola-bola tepung ketan yang disajikan dalam kuah manis. Di Tiongkok, hidangan ini identik dengan Perayaan Dongzhi (titik balik matahari musim dingin) dan melambangkan kebersamaan serta keutuhan keluarga. Ketika budaya ini berakulturasi dengan masyarakat Jawa, Tangyuan mengalami penyesuaian rasa secara lokal. Kuah manis yang awalnya sederhana diubah menggunakan rempah khas rempahan jahe yang membaka...