Lampu sorot kuning keemasan menembus kabut tipis yang menggantung di udara malam, membelah keheningan pinggiran Yogyakarta dua hari yang lalu. Dari kejauhan, dentam ritmis roda besi yang beradu dengan rel—tak-tuk-tak-tuk—mulai menggetarkan tanah di bawah pijakan. Suasana stasiun kecil di pinggiran kota yang tenang mendadak hidup oleh antisipasi singkat. Suhu dingin khas malam Yogyakarta terasa menggigit kulit, namun rasa penasaran menahan langkah untuk tetap berdiri di tepi peron. Angin kencang berhembus mendadak saat lokomotif gagah itu meluncur makin mendekat. Suara klakson semboyan 35 melengking nyaring, memantul di antara deretan pohon jati dan rumah-rumah warga yang sudah gelap di sekitar jalur rel. Saat gerbong demi gerbong melintas pelan, deretan jendela berlampu redup menampilkan banyak kisah manusia di dalamnya. Ada penumpang yang tertidur lelap menyandarkan kepala di kaca jendela, ada yang mengusap layar ponselnya dengan wajah letih, dan ada pula yang menatap kosong ke luar...