Melihat Kereta Malam Dari Kejauhan di Jogja Lusa Kemarin

Lampu sorot kuning keemasan menembus kabut tipis yang menggantung di udara malam, membelah keheningan pinggiran Yogyakarta dua hari yang lalu. Dari kejauhan, dentam ritmis roda besi yang beradu dengan rel—tak-tuk-tak-tuk—mulai menggetarkan tanah di bawah pijakan. Suasana stasiun kecil di pinggiran kota yang tenang mendadak hidup oleh antisipasi singkat.

​Suhu dingin khas malam Yogyakarta terasa menggigit kulit, namun rasa penasaran menahan langkah untuk tetap berdiri di tepi peron. Angin kencang berhembus mendadak saat lokomotif gagah itu meluncur makin mendekat. Suara klakson semboyan 35 melengking nyaring, memantul di antara deretan pohon jati dan rumah-rumah warga yang sudah gelap di sekitar jalur rel.

​Saat gerbong demi gerbong melintas pelan, deretan jendela berlampu redup menampilkan banyak kisah manusia di dalamnya. Ada penumpang yang tertidur lelap menyandarkan kepala di kaca jendela, ada yang mengusap layar ponselnya dengan wajah letih, dan ada pula yang menatap kosong ke luar malam, mungkin sedang merindukan rumah, atau justru bersiap menyambut perjalanan baru di ibu kota berikutnya. Gerak cepat kereta malam itu menyajikan ribuan cerita singkat yang lewat begitu saja tanpa sempat disapa.

​Hanya butuh beberapa menit sampai gerbong terakhir dengan lampu merahnya yang khas perlahan menjauh, mengecil, lalu ditelan kegelapan malam arah barat. Kebisingan mesin dan derak rel surut seketika, menyisakan kembali kesunyian malam Jogja yang magis, bau khas asap besi, dan aroma tanah basah yang tertinggal di udara. Pengalaman singkat dua hari lalu itu seperti melihat sebuah garis waktu yang terus bergerak seakan pengingat pelan bahwa di tengah tenang dan lambatnya ritme Jogja, kehidupan lain sedang melaju kencang menembus malam.

Komentar

Postingan Populer