Langsung ke konten utama

Donations


You can help us by donating on this page.
Donate today, support and care by donating to our community for our good.
Kindness is never measured by the amount, but by our sincerity and consistency in caring for each other.
Scan Qris :

Your donation helps sustain we research and conservation, where's that appreciating, expressing, creating, and developing. Our blogg is currently focused on regular, simple updates to facilitate the sharing of information, guides, tutorials, and broader content.
Our blogg is building a long-term online asset, fully controlling the content, appreciating, expressing, creating and make stronger relationships with our audience through quality content and comment interactions.
We wish you continued health and continued success.
We sincerely extend our deepest gratitude for this part of our long journey














Please confirm this by email or contact,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perpaduan Kayu Apung Sungai Dengan Jejaknya Yang Memiliki Perjalanan Ekologis dan Estetika Alami

Kayu apung sungai (river driftwood) yang merupakan potongan-potongan kayu bagian dari pohon terhanyut oleh arus sungai dan mengalami proses pelapukan, pengikisan, serta pengawetan alami selama berminggu-minggu, bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Kayu ini bukan sekadar limbah alam, melainkan material unik yang memadukan jejak perjalanan ekologis dan estetika alami. ​1. Asal-Usul dan Perjalanan Alami ​Kayu apung berasal dari ranting, dahan, atau tunggul pohon yang tumbang akibat erosi tebing sungai, badai, banjir, atau aktivitas tebang pilih. Begitu jatuh ke badan air, kayu memulai perjalanan alaminya: ​-Pengikisan oleh Arus (Natural Sanding): Arus air sungai bersama gesekan pasir dan batu kerikil secara perlahan mengikis kulit kayu yang lunak, sudut tajam, dan bagian luar kayu. Hal ini meninggalkan tekstur yang halus, berlekuk, dan organik. ​-Perendaman dan Pemutihan: Paparan air sungai yang terus-menerus melarutkan kandungan getah alami kayu. Ketika tersangkut di tepi sungai dan terpap...

Memaknai Kayu Tua Lapuk dan Sebuah Keberlanjutan

Di dalam belantara belukar yang tenang, sering kali perhatian kita langsung tertambat pada pohon-pohon rindang yang menjulang tinggi. Mereka menjadi simbol kejayaan dan kekuatan. Namun, jika kita melangkah lebih dalam dan mengamati lantai hutan, ada keindahan lain yang kerap terabaikan: sebatang kayu tua yang lapuk. ​Ia tidak lagi memiliki dedaunan hijau untuk dipamerkan, tidak pula batang keras yang sanggup menahan hempasan badai. Namun, dalam diam dan kehancuran fisiknya, kayu tua lapuk menyimpan narasi kehidupan dan filosofi yang sangat mendalam. ​1. Keikhlasan Melepaskan Kejayaan Masa Lalu ​Kayu tua itu mungkin puluhan atau ratusan tahun lalu merupakan bagian dari tajuk pohon yang menaungi kawanan burung dan merindangi bumi dari sengatan matahari. Namun, ketika masanya usai, ia tidak menolak untuk runtuh. Ia tidak mengutuk angin yang menumbangkannya atau waktu yang membuatnya rapuh. ​Dalam kehidupan manusia, kayu tua lapuk mengajarkan seni bertransisi dengan anggun. Kita kerap terj...

Cerita Rakyat Asal Mula Sungai Serayu

Panorama Tepi Sungai Serayu Sekitar 20 kilometer di sebelah utara kota Wonosobo, yaitu di sebuah daerah dataran tinggi Dieng terdapatlah sumber mata air , mata air tersebut bernama Tuk Bima Lukar . Menurut cerita atau legenda masyarakat sekitar, Tuk Bima Lukar mempunyai daya tarik tersendiri. Yaitu dipercaya bisa membuat orang awet muda dengan membasuh muka atau mandi dengan air di tuk tersebut. Sedangkan asal mula cerita Tuk tersebut berawal pada suatu ketika sang pandawa sedang pergi ke Dieng untuk membangun Candi sebagai tempat pemujaan, di tengah perjalanan salah satu orang Pandawa yaitu Bima merasa ingin buang air kecil (ken***g), lalu dia berhenti untuk buang air kecil. BACA JUGA ; Cerita Awal Mula Sungai Serayu Wonosobo , Crito Rakyat Babagan Asal Mulo Kali Serayu (Jw) , Cerita Kisah Lakon Bima Bungkus

Pesona Cucak Rowo Yang Merdu Kicaunya dan Menjadi Legenda

Burung Cucak Rowo (Pycnonotus zeylanicus), atau yang sering disapa dengan sebutan Cucakrawa, merupakan salah satu spesies burung kicau dari suku Pycnonotidae (cucak-cucakan) yang paling termasyhur di Asia Tenggara. Dikenal lewat suaranya yang khas, nyaring, dan menggema, burung ini memiliki tempat istimewa di kalangan pecinta burung berkicau (kicau mania). ​1. Ciri Fisik dan Karakteristik Visual ​Cucak Rowo memiliki ukuran tubuh sedang hingga cukup besar untuk ukuran burung pengicau, yakni sekitar 26–30 cm. Karakteristik utamanya mudah diidentifikasi lewat fitur-fitur berikut: ​>Kepala: Bagian mahkota dan pipi berwarna jingga kecokelatan atau kekuningan yang mencolok. ​>Tubuh: Punggung berwarna cokelat zaitun dengan garis-garis putih tipis. Dadanya bergaris-garis kelabu bercampur putih, sementara bagian perut berwarna abu-abu pucat dengan penutup tungging berwarna kuning. ​>Mata dan Paruh: Memiliki strip hitam tebal melintasi mata hingga ke pangkal paruh yang berwarna hitam ta...

Berkreasi Hemat Biaya Dengan Moss Alami Sederhana, Menginspirasi dan Bernilai Seni

"Instalasi Seni Moss Lumut Alam" Memposisikan tumbuhan moss lumut sebagai karya seni yang unik dan hidup. ​Mengusung konsep mikro hutan kota di lahan dinding alami dalam halaman hunian, sebagai keindahan tak terduga yang dapat memberikan kejutan dan keunikan visual. "Miniatur Hutan dalam Gelas"  Menekankan keindahan ekosistem mini yang hidup di dalam gelas. ​"Dunia Lumut di Antara Kayu" Menyoroti fokus utama pada tanaman lumut pada pot gelas yang tumbuh subur. ​"Waktu yang Berhenti di Atas Lumut" Menghubungkan jam antik dengan sifat tanaman lumut di dalam gelas yang lambat pertumbuhannya. "Miniatur Lantai Hutan Dengan Gelas Mini" "Siklus yang Tak Pernah Usai" Menyoroti bagaimana sesuatu yang sudah mati (kayu lapuk) bisa menjadi rumah bagi kehidupan baru (lumut dan tanaman). "Keindahan dalam Ketidaksempurnaan" Konsep estetika yang cukup cocok untuk pot kayu lapuk yang retak dan tidak beraturan, namun justru terlihat s...

Tuk Bima Lukar Kawasan Pegunungan Dieng dan Keindahan Pemandangan Sekitarnya

Tuk Bima Lukar, mata air atau sumber air yang berasal dari bawah lereng Gunung Perahu yang terletak di sekitar kawasan pegunungan Dieng. Tuk Bima Lukar merupakan Hulu dari Sungai Serayu. Tuk Bima Lukar juga merupakan Mata air yang di anggap suci bagi rakyat kuno di Dieng. Nama Bima Lukar di ambil dari kata Bima dan Lukar, Bima artinya nama salah satu satu tokoh dari Pandawa sedangkan Lukar yang berarti busana. Menurut legenda cerita nama Bima Lukar berarti sebagai tempat dimana tempat sang tokoh Pandawa yaitu dimana Bima saat sedang melukar (melepas) pakaiannya untuk disucikan. Tuk Bima Lukar tersebut terbuat dari batu jaman purba yang disimbolkan dengan batu lingga (bentuknya menyerupai alat kelamin pria) dan Yoni sebagai yang digunakan sebagai penampung air nya (berbentuk seperti alat kelamin wanita). Menurut cerita rakyat kuno air dari Tuk Bima Lukar ini diyakini bisa menjadikan awet muda apabila seseorang telah mencuci muka nya di Tuk Bima Lukar tersebut.

Filosofi dan Sedikit Makna Mengenal Kayu Lapuk

Di dalam belantara kehidupan, kita sering kali mendewakan hal-hal yang kokoh, megah, dan tak tertandingi. Pohon-pohon tinggi yang berdiri tegak sering dianggap sebagai simbol kejayaan. Namun, ketika sang waktu menjalankan tugasnya dan pohon itu akhirnya tumbang lalu menjadi kayu lapuk (kayu yang sudah rapùh), secara umumnya pandangan manusia cenderung berubah. Kayu lapuk kerap disingkirkan, diangap limbah, atau dinilai sudah kehilangan gunanya. Padahal, jika kita bersedia mengamatinya lebih dalam, ada filosofi penerimaan dan keberlanjutan yang begitu anggun dari sebongkah kayu yang mengering dan melapuk. ​1. Transformasi dan Keikhlasan Melepaskan. ​Kayu lapuk mengajar tentang seni berpisah dengan kejayaan masa lalu. Dahulu, ia mungkin menjadi bagian dari dahan rindang yang menaungi banyak makhluk dari terik matahari. Namun, ketika energinya habis, ia tidak menolak proses pembusukan. Ia menerima lapuk sebagai bentuk transformasi yang alami. ​Dalam kehidupan manusia, kita kerap terjebak ...