Buah Eksotis Eks-Kolonial Yang Cukup Kaya Akan Manfaat
Terong belanda (Solanum betaceum atau Tamarillo) sering kali dikira sebagai varietas terong biasa, padahal secara visual dan rasa, tanaman ini jauh lebih menyerupai buah-buahan segar. Diperkenalkan oleh kompeni Belanda pada zaman kolonial, tanaman ini beradaptasi dengan sangat baik di dataran tinggi Dieng (Jawa Tengah). Berbeda dari terong sayur yang bersemak rendah, pohon terong belanda tumbuh tegak menyerupai pohon kecil berdahan ramping hingga setinggi 2–3 meter dengan daun lebar beraroma khas.
Warna buah terong ini cukup memiliki daya pikat, selain buahnya yang menggantung anggun di antara ranting, kulitnya berubah dari hijau muda menjadi merah keunguan atau jingga terang saat matang, memberikan estetika visual yang kontras dan memanjakan mata di pekarangan.
Citarasa segar dan unik dengan daging buahnya berwarna kuning-merah dengan biji kehitaman. Rasa perpaduan antara asam segar, sedikit manis, dan aroma khas yang sangat populer untuk diolah menjadi jus, selai, atau sirup.
Parameter kebutuhan optimal iklim dan dataran ketinggian tumbuh maksimal berada pada dataran tinggi (500–1.500 mdpl) dengan suhu sejuk (15–24°C).
Media tanam tanah gembur, kaya bahan organik, dan memiliki drainase yang sangat baik (tidak tahan genangan air).
Penyiraman rutin tetapi tidak berlebihan. Pada tanah yang terlalu basah membuat akar mudah membusuk.
Masa panen tanaman ini mulai berbuah pada usia 1,5–2 tahun setelah tanam dan dapat terus produktif hingga bertahun-tahun.
Apakah Anda berencana menanam pohon terong belanda ini di daerah sejuk, atau tertarik dengan olahan resep jus dan kuliner khasnya?





Komentar