Cerita Kisah Legenda Kelahiran Lakon Bima Bungkus
Kelahiran putra kedua Prabu Pandu Dewanata dan Dewi Kunti menyelimuti Istana Hastinapura dengan kecemasan mendalam ketika sang bayi lahir terbungkus selaput plasenta gaib yang luar biasa kuat. Tidak ada sebilah keris, tombak, maupun senjata pusaka mana pun di kerajaan yang mampu merobek wujud Bima Bungkus tersebut. Atas petunjuk Begawan Abiyasa, sang bayi akhirnya diasingkan ke Hutan Mandalasara, dibiarkan bertapa menanti kehendak para dewa hingga bertahun-tahun lamanya.
Keberadaan bungkus gaib di tengah hutan sempat dimanfaatkan oleh Patih Sakuni dan para Kurawa. Dengan dalih ingin membantu memecahkan selaput tersebut, Kurawa justru berniat berniat jahat memusnahkan sang bayi. Namun, alih-alih hancur, setiap sabetan senjata dan godam para Kurawa justru berbalik memantulkan energi dahsyat yang membuat mereka lari berhamburan dalam keadaan babak belur.
Keheningan hutan berakhir saat Kahyangan Jonggring Saloka bergetar hebat akibat aura pertapaan sang bayi dari dalam selaputnya. Batara Guru kemudian mengutus Gajah Sena, gajah sakti wahana dewata, turun ke Bumi untuk membebaskan sang jabang bayi. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dan gading saktinya, Gajah Sena menancapkan gadingnya hingga selaput pembungkus itu robek seketika.
Begitu selaput pecah, terbebaslah seorang anak laki-laki dengan hawa keberanian yang sangat kuat. Terkejut oleh benturan energi di sekitarnya, sang bayi secara refleks bertarung dengan Gajah Sena. Dalam pertempuran singkat tersebut, Gajah Sena gugur dan sukmannya menyatu ke dalam diri sang bayi, menyumbangkan kekuatan fisik yang tak tertandingi serta menganugerahkan nama Bratasena.
Pascapertarungan, Batara Guru dan Dewi Umayi turun memberikan pengajaran serta pakaian gaib yang kelak menjadi ciri khas sang ksatria: kain Poleng Bang Bintulu sebagai simbol keteguhan moral membedakan hak dan batil, serta kuku Pancanaka yang tumbuh di jempol tangannya sebagai senjata pemungkas.
Lakon Bima Bungkus menjadi perlambang spiritual mengenai proses pembentukan jiwa manusia. Selaput pembungkus mewakili rintangan, ego, dan kawah candradimuka kehidupan yang harus dipecahkan melalui tirakat dan kesabaran sebelum seseorang mampu lahir menjadi pribadi yang dewasa, tangguh, dan berdiri tegak membela kebenaran.










Komentar