Sedikit Cerita Sungai Serayu Wonosobo Yang Memiliki Bekas Bangunan Navigasi Pintu Air Sungai Sejak Jaman Kolonial
Kabut tipis selalu menyelimuti tepian Sungai Serayu di kawasan Garung, Wonosobo, ketika pagi membendung dingin. Di tempat inilah air bergemericik, jernih dan dingin, membelah lembah hijau yang membawa kesegaran dari hulu utamanya, Tuk Bima Lukar. Namun, di balik keindahan alam dan derasnya air yang mengalir menuju selatan Jawa, tersimpan deretan dinding batu hitam setinggi tiga meter yang diselimuti lumut tebal.
Itulah "De Serayu Sluis" bekas bangunan navigasi dan pintu air legendaris yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada dekade 1920-an.
Pada cerita jaman dahulu kala, konon cerita, seorang lelaki tua yang sudah puluhan tahun menghabiskan usianya sebagai penjaga pintu air, berdiri di atas balok beton tua tersebut. Tangannya yang keriput mengusap roda besi raksasa yang kini sudah mati berkarat, menyatu dengan alam.
"Pintu air ini bukan sekadar penahan air, Le," ujar Pak Tua, seorang peneliti muda yang sengaja datang jauh-jauh dari Semarang untuk mencatat sejarah pengelolaan air di DAS Serayu.
"Dulu, kolonial membangun pintu navigasi ini bukan hanya untuk irigasi perkebunan di bawah sana," lanjut Pak Tua sembari menunjuk lintasan air. "Mereka merancang sistem navigasi pintu air ini untuk mengukur debit air hujan dari Dataran Tinggi Dieng, mengendalikan erosi lumpur, sekaligus memantau jalur logistik kayu dan hasil bumi yang dihanyutkan sampai ke wilayah Banjarnegara dan Banyumas."
Ia pun mengamati struktur bangunan yang tampak begitu kokoh. Pasangan batu kali berukuran besar disambung dengan adukan semen merah kuno tanpa tulang besi modern, namun tetap berdiri tegak mengarungi tumpukan zaman dan terjangan beberapa banjir bandang yang terjadi dalam waktu kurun sebelumnya.
Di salah satu sisi tembok beton yang tergerus air, ia menemukan engsel pintu sorong kuno berkode grafir 1928 - Waterstaat. Pintu air ini pada zamannya merupakan keajaiban rekayasa sipil. Saat musim hujan tiba dan debit air Serayu memuncak dari Gunung Prau, para petugas kolonial bersama pekerja lokal (mendo) membuka pintu penguras (spuisluis) untuk membuang muatan sedimen dan endapan batu agar aliran bawah tidak membendung membahayakan pemukiman.
"Waktu saya masih kecil," kenang Pak Tua dengan tatapan menerawang ke arah pusaran air, "kakek saya menceritakan betapa megahnya tempat ini. Setiap kali pintu kayu jati raksasa itu dinaikkan dengan rantai besi, bunyinya terdengar sampai ke desa sebelah. Air meraung membelah batu, membaginya rata ke saluran irigasi sekunder untuk mengairi ribuan hektar sawah warga."
Namun, struktur pintu air era kolonial itu tetap dibiarkan berdiri anggun. Dinding batunya kini menjadi rumah bagi tanaman paku dan lumut, yang seakan menyatu harmonis dengan riak air Serayu yang tak pernah berhenti mengalir.
Bagi warga sekitar dan siapa saja yang melintas di Lembah Serayu Wonosobo, bangunan tua itu bukan sekadar saksi bisu era kolonial. Ia adalah monumen pengingat tentang bagaimana manusia dari masa ke masa belajar berdampingan, mengendalikan, dan menghargai akan keagungan dan keindahan Sungai Serayu.

Komentar