Tari Pamonte merupakan salah satu tarian adat Sulawesi Tengah yang sangat populer, baik di luar negeri atau mancanegara ataupun di tingkat domestik atau nasional. Karena itu tarian ini sangat sering ditampilkan dalam berbagai acara baik yang sifatnya resmi maupun non resmi. Tari Pamonte menceritakan proses kehidupan petani sawah, dimana dikisahkan mulai dari menanam padi, memelihara padi sampai panen tiba, dan akhirnya melaksanakan pesta panen. Tarian adat Sulawesi Tengah selain Pamonte juga terdapat tari lain, yaitu tari pontanu, tari jepeng, tari baliore, tari pepoinaya, tari motaro dan tarian posisani.
Kelahiran putra kedua Prabu Pandu Dewanata dan Dewi Kunti menyelimuti Istana Hastinapura dengan kecemasan mendalam ketika sang bayi lahir terbungkus selaput plasenta gaib yang luar biasa kuat. Tidak ada sebilah keris, tombak, maupun senjata pusaka mana pun di kerajaan yang mampu merobek wujud Bima Bungkus tersebut. Atas petunjuk Begawan Abiyasa, sang bayi akhirnya diasingkan ke Hutan Mandalasara, dibiarkan bertapa menanti kehendak para dewa hingga bertahun-tahun lamanya. Keberadaan bungkus gaib di tengah hutan sempat dimanfaatkan oleh Patih Sakuni dan para Kurawa. Dengan dalih ingin membantu memecahkan selaput tersebut, Kurawa justru berniat berniat jahat memusnahkan sang bayi. Namun, alih-alih hancur, setiap sabetan senjata dan godam para Kurawa justru berbalik memantulkan energi dahsyat yang membuat mereka lari berhamburan dalam keadaan babak belur. Keheningan hutan berakhir saat Kahyangan Jonggring Saloka bergetar hebat akibat aura pertapaan sang bayi dari dalam selaputnya. Batar...
