Kisah kehadiran jemaat Kristen Jawa di Wonosobo berawal pada tahun 1905, ketika seorang utusan lembaga misi Zending dari Belanda bernama Ds. (Dominus/Pendeta) Netelenbosch tiba di Kadipaten Wonosobo.
Pendekatan pekabaran Injil saat itu tidak hanya dilakukan melalui mimbar, melainkan melalui pelayanan nyata masyarakat:
• Bidang Kesehatan (1907): Didirikan Hulp Ziekenhuis (rumah sakit pembantu) untuk melayani pengobatan warga lokal. Fasilitas medis ini kelak berkembang dan menjadi cikal bakal RSUD Setjo Negoro Wonosobo.
• Bidang Pendidikan (1912): Didirikan Standard School (sekolah angka 2 Zending) di Wonosobo dan Bendungan Selomerto untuk memberikan akses pendidikan bagi anak-anak pribumi.
Pada 7 Mei 1911, Ds. Netelenbosch membaptis warga pribumi pertama di Wonosobo yang kemudian menjadi pembantu pelayanannya. Sepanjang era 1920-an, jemaat Kristen Jawa di Wonosobo terus tumbuh. Sebelum memiliki gedung gereja sendiri, peribadatan dilakukan secara bergantian di rumah-rumah warga, salah satunya di kediaman warga bernama R. Soekardi.
Pelayanan saat itu diasuh secara bergantian oleh para konsulen dari daerah sekitar, seperti Ds. Esser dari Purbalingga, Ds. Markelijn dari Magelang, serta Guru Injil Atmosoekarto dari Temanggung. Pada 13 Desember 1926, Ds. Markelijn membaptis 27 orang warga lokal dari Wonosobo dan Bendungan Selomerto. Melihat perkembangan jemaat yang kian mantap, kebutuhan akan gedung ibadah yang permanen menjadi semakin mendesak.
• Peletakan Batu Pertama: Pada tanggal 1 Januari 1936, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek asal Magelang bernama Ir. Pleiter.
• Peneguhan Majelis Pertama: Pada 16 Februari 1936, diteguhkan Tua-Tua dan Diaken (Majelis) pertama untuk GKJ Wonosobo—tanggal ini yang kelak ditetapkan sebagai Hari Jadi GKJ Wonosobo.
• Peresmian & Motto: Pada 13 Agustus 1936, gedung gereja ini resmi dipakai untuk kebaktian pertama. Di bagian atas gereja disematkan kalimat ber-bahasa Belanda: "IK BEN HET LICHT DER WERELD" (Aku Inilah Terang Dunia / Papadhanging Jagad).
"IK BEN HET LICHT DER WERELD" (Aku Inilah Terang Dunia / Papadhanging Jagad).
Memasuki era Perang Dunia II (1943), pendudukan Jepang membawa dampak besar. Pendeta pendamping saat itu, Ds. Van Dijk, beserta warga Belanda lainnya ditangkap dan ditawan di kamp Ambarawa.
Pelayanan gereja kemudian dilanjutkan oleh para pelayan pribumi, di antaranya Ds. Hardjoprajitno dan Guru Injil Soegondo. Di tengah himpitan pergerakan kemerdekaan, jemaat pribumi secara mandiri menjaga kelangsungan GKJ Wonosobo. Seiring berjalannya waktu, jemaat GKJ Wonosobo terus bertambah hingga melahirkan beberapa jemaat baru (pepanthan) di wilayah sekitarnya.
Pada kurun waktu tahun 2000–2007, dilakukan renovasi gedung gereja. Pihak gereja dan pemerintah sepakat tetap mempertahankan bentuk arsitektur utama bangunan tahun 1936 karena gedung GKJ Wonosobo telah ditetapkan sebagai Warisan Cagar Budaya. Bangunan klasik berketinggian anggun dengan perpaduan elemen arsitektur kolonial dan kayu lokal yang terus berdiri megah sebagai saksi sejarah toleransi dan perkembangan iman di Kabupaten Wonosobo.

Komentar