Di sudut barat daya Alun-Alun Kota Wonosobo, berdiri sebuah bangunan tua berarsitektur khas era kolonial. Bagi masyarakat awam, bangunan tersebut mungkin terlihat seperti deretan pertokoan atau area komersial biasa. Namun bagi para pecinta sejarah dan moda transportasi massal, lokasi ini menyimpan memori kolektif penting: Bekas Stasiun Kereta Api Wonosobo, ujung timur dari peninggalan jalur trem dan kereta api Lembah Serayu.
Stasiun Wonosobo diresmikan pada 7 Juni 1917 oleh perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda, Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS). Pembangunannya memakan waktu cukup panjang akibat kendala medan pegunungan dan dampak Perang Dunia I.
Berada di ketinggian +772 meter di atas permukaan laut, Stasiun Wonosobo menjadi titik pemberhentian terakhir (terminus) jalur Purwokerto–Wonosobo. Pada masa keemasannya, peran stasiun ini sangat vital:
• Pengangkutan Hasil Bumi: Jalur ini dirancang utama untuk mengangkut komoditas perkebunan bernilai tinggi dari dataran tinggi Wonosobo dan sekitarnya, seperti teh, kayu manis, tembakau, hingga hasil tani lokal menuju pelabuhan atau kota-kota besar.
• Mobilisasi Penduduk: Menjadi urat nadi transportasi massal masyarakat di Lembah Sungai Serayu (menghubungkan Purwokerto, Sokaraja, Purbalingga, Banjarnegara, hingga Wonosobo).
Seiring berkembangnya transportasi darat berbasis jalan raya (seperti bus dan truk) pada pertengahan abad ke-20, minat masyarakat terhadap moda kereta api di jalur ini mulai menurun. Ditambah dengan infrastruktur dan armada rel yang menua, jalurnya menjadi kurang efisien.
Pada kurun waktu akhir 1970-an hingga awal 1980-an, jalur kereta api Purwokerto–Wonosobo resmi dihentikan operasionalnya oleh PT PJKA (sekarang PT Kereta Api Indonesia). Sejak saat itu, suara peluit lokomotif uap dan gemuruh roda besi tidak lagi terdengar melintasi lembah Serayu.
Meskipun telah lama tidak beroperasi, fisik bangunan utama Stasiun Wonosobo masih berdiri kokoh.
• Fisik Bangunan: Struktur utama stasiun seperti area bekas ruang tunggu, loket tiket, dan bagian pengatur sinyal relatif masih utuh.
• Pemanfaatan Aset: Aset ini masih berada di bawah kepemilikan PT KAI (Daop 5 Purwokerto). Untuk menjaga dan mengoptimalkan aset, area bekas stasiun kini disewakan dan dimanfaatkan sebagai kios pedagang, pertokoan, serta tempat usaha masyarakat setempat.
• Jejak Rel: Beberapa peninggalan berupa potongan rel besi atau bantalan rel tua masih bisa ditemukan di sekitar sudut jalan di Kota Wonosobo, terselip di antara trotoar dan pemukiman.
Wacana reaktivasi jalur kereta api Purwokerto–Wonosobo kerap menjadi perbincangan hangat, baik di tingkat pemerintah daerah maupun pusat. Tingginya potensi pariwisata Wonosobo khususnya Ketinggian Dieng, membuat keberadaan kembali jalur kereta api dianggap berpotensi besar untuk:
• Mengurangi kemacetan di jalan arteri utama Purwokerto–Wonosobo.
• Memberikan alternatif transportasi wisata yang ramah lingkungan dan menyuguhkan pemandangan indah sepanjang Lembah Serayu.
• Mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata dan UMKM.
Bekas Stasiun Kereta Api Wonosobo bukan sekadar bangunan tua yang beralih fungsi. Ia adalah monumen bisu kejayaan transportasi masa lalu yang pernah menghubungkan daerah dataran tinggi Jawa Tengah dengan pusat perekonomian lainnya. Menjaga sisa-sisa peninggalan ini penting agar generasi mendatang tetap mengenal sejarah perkeretaapian dan dinamika perkembangan Kota Wonosobo.

Komentar