Langsung ke konten utama

Sedikit Mengenal Indraprastha dan Ceritanya

Indraprastha (Dewanagari: इन्द्रप्रस्थ; IAST: Indrapraśtha) merupakan sebuah kota besar/kerajaan di India utara pada zaman dahulu kala. Kota ini muncul dalam kisah wiracarita Mahābhārata dan diperintah oleh Panca Pandawa. Kota/kerajaan ini terletak di tepi sungai Yamuna, lokasinya dekat dengan ibu kota India zaman sekarang, Delhi. Sebelum dikenal sebagai Indraprastha, kota/kerajaan ini dikenal sebagai Kandawaprastha.
Sejarah ini dikenal dengan kisah atau lakon Babad Alas Wanamarta. Korawa yang telah merasa berhasil membunuh Pandawa dalam cerita Bale Sigalagala terkejut ketika mengetahui ternyata Pandawa masih hidup. Prabu Duryudana yang tidak ingin kerajaan Astina atau Hastina diminta oleh Pandawa selaku penguasa yang sah mencari berbagai cara agar bisa membunuh kembali Pandawa. Untuk memperhalus niatan tersebut, Pandawa diberikan daerah yang masih berupa hutan yang bernama hutan Wanamarta (Wana berarti Hutan). Hutan tersebut terkenal keangkerannya, begitu angkernya sehingga digunakan istilah "Manusia Datang, Manusia Mati, Hewan Datang, Hewan Mati" (Jalma Mara, Jalma Mati, Sato Mara, Sato Mati) untuk menggambarkan keangkerannya.
Pandawa kesulitan dalam membuka hutan Wanamarta karena dikuasai oleh lima makhluk halus yang wajahnya mirip dengan para Pandawa. Kelima makhluk halus tersebut adalah Yudistira yang mirip dengan Prabu Puntadewa, Dandungwacana yang mirip dengan Bima, Dananjaya yang mirip dengan Arjuna, Nakula dan Sadewa yang mirip dengan si kembar Pinten dan Tansen. Kelima penguasa Wanamarta ini tidak sudi diganggu ketenangannya. Arjuna yang mempunyai minyak Jayengkaton mengoleskannya ke setiap mata Pandawa agar dapat melihat kelima makluk halus penguasa Wanamarta.
Akhirnya Pandawa dapat mengalahkan kelima penguasa hutan Wanamarta tersebut dan kelimanya menitis masuk kedalam tubuh para Pandawa sehingga Pandawa memiliki nama yang sama dengan para penguasa hutan Wanamarta tersebut serta seketika itu juga hutan Wanamarta berubah menjadi kerajaan yang megah luar biasa bernama Indraprastha atau Amarta.
Sebagai bentuk syukur atas berdirinya kerajaan Indraprastha atau Amarta ini atas petunjuk Sri Batara Kresna maka dilakukan upacara yang disebut dengan Sesaji Raja Surya atau Sesaji Rajasuya.
Menurut kitab Mahabharata, konon Kandawaprastha merupakan ibu kota kerajaan besar di India pada zaman dahulu kala, dan diperintah oleh para leluhur Pandawa dan Korawa, seperti misalnya Maharaja Pururawa, Nahusa, dan Yayati. Namun kota tersebut menjadi gersang akibat kutukan para resi, untuk menghukum putra Budha.
Saat diberikan kepada Pandawa, Kandawaprastha merupakan kota gersang. Melihat keadaan itu, Sri Kresna memanggil Indra, pemimpin para Dewa, untuk membantu Yudistira memperbaiki keadaan negeri tersebut. Dewa Indra memunculkan Wiswakarman, arsitek para Dewa yang merancang kota megah. Dengan suatu upacara, Wiswakarman berhasil mengusir segala penyakit di negeri tersebut dan menyuburkan kembali daerah yang gersang. Sesuai janji Kresna, Kandawaprastha akan diberi nama Indraprastha jika Indra mampu mengubah keadaan Kandawaprastha. Perlahan-lahan kota tersebut menjadi kota yang makmur dan berduyun-duyun orang-orang dari negeri tetangga bermigrasi ke negeri baru tersebut. Kota Indraprastha pun menjadi kota besar. Setelah Yudistira naik takhta, kota/kerajaan Indraprastha tetap mendapat pengawasan dari Hastinapura.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Kisah Legenda Kelahiran Lakon Bima Bungkus

Kelahiran putra kedua Prabu Pandu Dewanata dan Dewi Kunti menyelimuti Istana Hastinapura dengan kecemasan mendalam ketika sang bayi lahir terbungkus selaput plasenta gaib yang luar biasa kuat. Tidak ada sebilah keris, tombak, maupun senjata pusaka mana pun di kerajaan yang mampu merobek wujud Bima Bungkus tersebut. Atas petunjuk Begawan Abiyasa, sang bayi akhirnya diasingkan ke Hutan Mandalasara, dibiarkan bertapa menanti kehendak para dewa hingga bertahun-tahun lamanya. ​Keberadaan bungkus gaib di tengah hutan sempat dimanfaatkan oleh Patih Sakuni dan para Kurawa. Dengan dalih ingin membantu memecahkan selaput tersebut, Kurawa justru berniat berniat jahat memusnahkan sang bayi. Namun, alih-alih hancur, setiap sabetan senjata dan godam para Kurawa justru berbalik memantulkan energi dahsyat yang membuat mereka lari berhamburan dalam keadaan babak belur. ​Keheningan hutan berakhir saat Kahyangan Jonggring Saloka bergetar hebat akibat aura pertapaan sang bayi dari dalam selaputnya. Batar...

Pesona Cucak Rowo Yang Merdu Kicaunya dan Menjadi Legenda

Burung Cucak Rowo (Pycnonotus zeylanicus), atau yang sering disapa dengan sebutan Cucakrawa, merupakan salah satu spesies burung kicau dari suku Pycnonotidae (cucak-cucakan) yang paling termasyhur di Asia Tenggara. Dikenal lewat suaranya yang khas, nyaring, dan menggema, burung ini memiliki tempat istimewa di kalangan pecinta burung berkicau (kicau mania). ​1. Ciri Fisik dan Karakteristik Visual ​Cucak Rowo memiliki ukuran tubuh sedang hingga cukup besar untuk ukuran burung pengicau, yakni sekitar 26–30 cm. Karakteristik utamanya mudah diidentifikasi lewat fitur-fitur berikut: ​>Kepala: Bagian mahkota dan pipi berwarna jingga kecokelatan atau kekuningan yang mencolok. ​>Tubuh: Punggung berwarna cokelat zaitun dengan garis-garis putih tipis. Dadanya bergaris-garis kelabu bercampur putih, sementara bagian perut berwarna abu-abu pucat dengan penutup tungging berwarna kuning. ​>Mata dan Paruh: Memiliki strip hitam tebal melintasi mata hingga ke pangkal paruh yang berwarna hitam ta...

Cerita Rakyat Asal Mula Sungai Serayu

Panorama Tepi Sungai Serayu Sekitar 20 kilometer di sebelah utara kota Wonosobo, yaitu di sebuah daerah dataran tinggi Dieng terdapatlah sumber mata air , mata air tersebut bernama Tuk Bima Lukar . Menurut cerita atau legenda masyarakat sekitar, Tuk Bima Lukar mempunyai daya tarik tersendiri. Yaitu dipercaya bisa membuat orang awet muda dengan membasuh muka atau mandi dengan air di tuk tersebut. Sedangkan asal mula cerita Tuk tersebut berawal pada suatu ketika sang pandawa sedang pergi ke Dieng untuk membangun Candi sebagai tempat pemujaan, di tengah perjalanan salah satu orang Pandawa yaitu Bima merasa ingin buang air kecil (ken***g), lalu dia berhenti untuk buang air kecil. BACA JUGA ; Cerita Awal Mula Sungai Serayu Wonosobo , Crito Rakyat Babagan Asal Mulo Kali Serayu (Jw) , Cerita Kisah Lakon Bima Bungkus

Tuk Bima Lukar Kawasan Pegunungan Dieng dan Keindahan Pemandangan Sekitarnya

Tuk Bima Lukar, mata air atau sumber air yang berasal dari bawah lereng Gunung Perahu yang terletak di sekitar kawasan pegunungan Dieng. Tuk Bima Lukar merupakan Hulu dari Sungai Serayu. Tuk Bima Lukar juga merupakan Mata air yang di anggap suci bagi rakyat kuno di Dieng. Nama Bima Lukar di ambil dari kata Bima dan Lukar, Bima artinya nama salah satu satu tokoh dari Pandawa sedangkan Lukar yang berarti busana. Menurut legenda cerita nama Bima Lukar berarti sebagai tempat dimana tempat sang tokoh Pandawa yaitu dimana Bima saat sedang melukar (melepas) pakaiannya untuk disucikan. Tuk Bima Lukar tersebut terbuat dari batu jaman purba yang disimbolkan dengan batu lingga (bentuknya menyerupai alat kelamin pria) dan Yoni sebagai yang digunakan sebagai penampung air nya (berbentuk seperti alat kelamin wanita). Menurut cerita rakyat kuno air dari Tuk Bima Lukar ini diyakini bisa menjadikan awet muda apabila seseorang telah mencuci muka nya di Tuk Bima Lukar tersebut.

Memaknai Kayu Tua Lapuk dan Sebuah Keberlanjutan

Di dalam belantara belukar yang tenang, sering kali perhatian kita langsung tertambat pada pohon-pohon rindang yang menjulang tinggi. Mereka menjadi simbol kejayaan dan kekuatan. Namun, jika kita melangkah lebih dalam dan mengamati lantai hutan, ada keindahan lain yang kerap terabaikan: sebatang kayu tua yang lapuk. ​Ia tidak lagi memiliki dedaunan hijau untuk dipamerkan, tidak pula batang keras yang sanggup menahan hempasan badai. Namun, dalam diam dan kehancuran fisiknya, kayu tua lapuk menyimpan narasi kehidupan dan filosofi yang sangat mendalam. ​1. Keikhlasan Melepaskan Kejayaan Masa Lalu ​Kayu tua itu mungkin puluhan atau ratusan tahun lalu merupakan bagian dari tajuk pohon yang menaungi kawanan burung dan merindangi bumi dari sengatan matahari. Namun, ketika masanya usai, ia tidak menolak untuk runtuh. Ia tidak mengutuk angin yang menumbangkannya atau waktu yang membuatnya rapuh. ​Dalam kehidupan manusia, kayu tua lapuk mengajarkan seni bertransisi dengan anggun. Kita kerap terj...

Sedikit Mengenal Bima, Tokoh Pewayangan Jawa Yang Gagah Bijaksana

Dalam pewayangan Jawa, Bima digambarkan memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh, jujur dan bijaksana serta menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) ataupun duduk di depan lawan bicaranya. Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan bahasa krama inggil dan duduk) hanya ketika menjadi seorang resi dalam lakon Bima Suci, ketika dia bertemu dengan Dewaruci. Bima mahir bermain gada, serta memiliki berbagai macam senjata, antara lain: Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar), dan Bargawasta. Sedangkan jenis ajian yang dimilikinya antara lain: Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuglindhu, Aji Bayubraja dan Aji Blabak Pangantol-antol. Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu: Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah dewata yang diterimanya antara lai...

Berkreasi Hemat Biaya Dengan Moss Yang Sederhana, Menginspirasi dan Tampak Menarik

"Instalasi Seni Moss Lumut Alam" Memposisikan tumbuhan moss lumut sebagai karya seni yang unik dan hidup. ​Mengusung konsep mikro hutan kota di lahan dinding alami dalam halaman hunian, sebagai keindahan tak terduga yang dapat memberikan kejutan dan keunikan visual. "Miniatur Hutan dalam Gelas"  Menekankan keindahan ekosistem mini yang hidup di dalam gelas. ​"Dunia Lumut di Antara Kayu" Menyoroti fokus utama pada tanaman lumut pada pot gelas yang tumbuh subur. ​"Waktu yang Berhenti di Atas Lumut" Menghubungkan jam antik dengan sifat tanaman lumut di dalam gelas yang lambat pertumbuhannya. "Miniatur Lantai Hutan Dengan Gelas Mini" "Siklus yang Tak Pernah Usai" Menyoroti bagaimana sesuatu yang sudah mati (kayu lapuk) bisa menjadi rumah bagi kehidupan baru (lumut dan tanaman). "Keindahan dalam Ketidaksempurnaan" Konsep estetika yang cukup cocok untuk pot kayu lapuk yang retak dan tidak beraturan, namun justru terlihat s...

Filosofi dan Sedikit Makna Mengenal Kayu Lapuk

Di dalam belantara kehidupan, kita sering kali mendewakan hal-hal yang kokoh, megah, dan tak tertandingi. Pohon-pohon tinggi yang berdiri tegak sering dianggap sebagai simbol kejayaan. Namun, ketika sang waktu menjalankan tugasnya dan pohon itu akhirnya tumbang lalu menjadi kayu lapuk (kayu yang sudah rapùh), secara umumnya pandangan manusia cenderung berubah. Kayu lapuk kerap disingkirkan, diangap limbah, atau dinilai sudah kehilangan gunanya. Padahal, jika kita bersedia mengamatinya lebih dalam, ada filosofi penerimaan dan keberlanjutan yang begitu anggun dari sebongkah kayu yang mengering dan melapuk. ​1. Transformasi dan Keikhlasan Melepaskan. ​Kayu lapuk mengajar tentang seni berpisah dengan kejayaan masa lalu. Dahulu, ia mungkin menjadi bagian dari dahan rindang yang menaungi banyak makhluk dari terik matahari. Namun, ketika energinya habis, ia tidak menolak proses pembusukan. Ia menerima lapuk sebagai bentuk transformasi yang alami. ​Dalam kehidupan manusia, kita kerap terjebak ...