Sebelum berdiri di lokasinya yang sekarang, pusat pemerintahan dan kediaman Adipati Wonosobo sempat berada di lokasi yang berbeda. Namun, pada tahun 1860, wilayah Pegunungan Dieng dan Wonosobo diguncang oleh gempa bumi yang sangat dahsyat. Bencana alam ini merubuhkan banyak bangunan penting, termasuk kediaman pusat pemerintahan kadipaten kala itu.

Setahun pascabencana, yaitu pada tahun 1861, Pemerintah Hindia Belanda bersama Adipati Wonosobo memutuskan untuk membangun kembali kompleks pusat kediaman bupati yang baru. Bangunan inilah yang kemudian dikenal oleh masyarakat setempat sebagai nDalem Katumenggungan.
Rumah Dinas Bupati Wonosobo yang dirancang dengan memadukan dua unsur kebudayaan besar:
• Gaya Kolonial (Indische Empire Style / Neo-Klasik): Terlihat dari pilar-pilar beton besar yang megah di bagian depan (portico), atap jangkung, dinding bata yang sangat tebal, serta jendela-jendela kayu berukuran tinggi untuk menyesuaikan dengan sirkulasi udara pegunungan.
• Gaya Tradisional Jawa: Tata letak kompleks bangunan tetap memegang teguh filosofi tata ruang Jawa, yang terdiri dari area Pendopo (ruang penerimaan tamu terbuka di bagian depan), Pringgitan (ruang penghubung/pertunjukan), hingga nDalem (ruang kediaman keluarga bupati).
Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, kawasan Wonosobo berkembang menjadi daerah peristirahatan sejuk, favorit para pejabat tinggi Belanda dan pemilik perkebunan kopi serta teh di wilayah Dieng.
nDalem Katumenggungan tidak hanya berfungsi sebagai rumah tinggal keluarga Bupati, tetapi juga menjadi tempat berlangsungnya perjamuan resmi, penyambutan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, serta pusat keputusan-keputusan penting terkait pembangunan infrastruktur, pertanian, dan kemasyarakatan di wilayah Wonosobo.
Saat pendudukan Jepang (1942–1945) hingga Perang Kemerdekaan Indonesia (1945–1949), kompleks Rumah Dinas Bupati ini menjadi saksi bisu dinamika politik dan militer lokal.
Ketika terjadi Agresi Militer Belanda, kompleks nDalem Katumenggungan sempat mengalami pergantian penguasaan, di mana para pejuang kemerdekaan dan bupati yang menjabat saat itu harus berpindah strategi demi mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia di wilayah pegunungan Jawa Tengah.
Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini tetap difungsikan sebagaimana peruntukan awalnya, yaitu sebagai rumah dinas resmi Bupati Kabupaten Wonosobo.
Sekarang, nDalem Katumenggungan ditetapkan sebagai salah satu Bangunan Cagar Budaya. Walaupun telah mengalami beberapa kali pemeliharaan dan perbaikan fasilitas, struktur utama dan nilai historisnya tetap dilestarikan. Bangunan ini terus berdiri anggun di utara Alun-alun Wonosobo, menjadi simbol kepemimpinan sekaligus warisan sejarah perkembangan Kabupaten Wonosobo hingga sekarang.
Komentar